Baru saja nonton tvOne, apa kabar Indonesia. Topik mengenai vonis yang telah ditetapkan hari ini terhadap Habib Riziq, terbukti menghasut orang banyak dan dijatuhi hukuman penjara selama 1 tahun 6 bulan. Acara yang mengundang 2 narasumber (masing-masing berasal dari FPI dan AKKBB) berlangsung cepat, dan tanpa tujuan yang jelas karena kedua kubu saling menjatuhkan dan sibuk saling melecehkan. Saya tidak melihat adanya arus informasi, yang seperti ini tak lebih dari sekedar adu opini. Tak jelas apa yang diutarakan masing-masing kubu karena ketika yang satu angkat bicara, lawannya langsung menimpali tanpa menunggu yang bicara terlebih dahulu menyelesaikan pendapatnya. Saling menuduh telah memutar balikkan fakta, dan saling menyangkal dengan berbagai alasan yang terkesan ada-ada saja. Ironisnya, keduanya bicara atas nama Islam. Keduanya (dengan nada melecehkan) saling menganjurkan untuk memperdalam Islam lebih baik. Keduanya mengklaim Islamnya adalah Islam yang benar.
Inilah cerminan masyarakat Islam saat ini. Islam hanya sebagai title yang diperebutkan sana-sini. Banyak pihak mengklaim Islamnyalah Islam yang paling benar. Miris sementara Indonesia notabene merupakan Negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, headline surat kabar dipenuhi berbagai isu berbau konflik internal Islam. Mulai dari pernikahan bawah umur, sampai pengesahan RUU. Saat ini, di Negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia ini, Islam tak lebih dari sekedar buih di lautan.
Jelas, dalam acara tersebut FPI salah menampilkan orang. Dengan menempatkan seseorang yang masih ‘hijau’ untuk berdakwah di Negara yang majemuk; dengan menempatkan seseorang yang ‘berapi-api’ dalam dakwah amar ma’ruf nahi munkar. Akibatnya, cukup membuat dahi berkerut mendengar kata-kata yang tidak sepantasnya terlontar di acara yang disiarkan secara nasional, sangat tidak mengundang simpati masyarakat awam.
Mungkin orang tersebut akan berargumen bahwa itu adalah satu-satunya cara untuk berbicara dengan orang yang telah keras hatinya, tapi tidakkah ia seharusnya belajar dari kisah K.H. Agus Salim?
Kala itu, dalam salah satu rapat Sarekat Islam, seorang lelaki berperawakan kecil, berjanggut panjang, dan berkumis duduk tenang di kursinya. Orang tersebut bernama KH Agus Salim, sorot matanya tajam, tak lepas dari sosok yang sedang berdiri di atas podium, Muso –kelak menjadi tokoh Partai Komunis Indonesia. Di atas podium Muso berdiri angkuh, pandangan menyapu seluruh ruangan. “Saudara-saudara, tahukah anda siapakah yang berjanggut itu?” tanyanya pada seluruh peserta rapat. Sejenak ruangan terasa hening. Lalu mereka sontak menjawab “kambing!”. Muso pun bertanya lagi, “tahukah anda siapakah yang berkumis itu?”. Seperti disihir, seluruh peserta menjawab kompak “kucing!”. Dengan senyum sinis tersungging di bibirnya, Muso pun turun dari atas podium. Kemudian lelaki berperawakan kecil yang berjanggut dan berkumis itu, KH Agus Salim, berdiri dari duduknya. Dengan tenang ia berjalan menuju podium. Sambil mengelus janggutnya, ia melemparkan senyum pada seluruh peserta rapat, lalu bertanya dengan nada setenang seorang ayah yang berbincang pada anak gadisnya, “siapakah menurut saudara, yang tidak memiliki janggut, dan tidak memiliki kumis?” Jawaban pun menggema dalam ruangan “Anjing”
Tak mudah untuk menjumpai tokoh sekelas KH Agus Salim. Umat Islam saat ini kehilangan panutan.
Apa yang baru saja terjadi, di tvOne yang disiarkan ke seluruh pelosok nusantara, bisa jadi contohnya. Citra Islam yang sangat antipati, mengedepankan kekerasan, sebagai momok bagi sebagian besar masyarakat yang penuh keanekaragaman.
Untung bagi saya, ada satu kalimat yang tertangkap ketika keduanya saling melontarkan argumen masing-masing tanpa jeda, tanpa membiarkan lawannya menyelesaikan kalimatnya. Di antara adu mulut yang membosankan itu sempat saya dengar ucapan dari pihak FPI, “Jangan bicara tentang Islam jika anda tak mengenal Islam dalam-dalam. Pelajari dulu, baru bicara ini-itu tentang Islam”. Di antara kalimat-kalimat pedas yang terdengar, benak saya tersentak ketika sepotong kalimat ini keluar.
Dalam kemajemukan bumi pertiwi, yang menyertakan kemajemukan berlabel Islam-ini-Islam-itu- di dalamnya, tidakkah anda ingin tahu apa dan bagaimana ajaran Islam yang sebenar-benarnya? Akankah anda turut patuh tanpa pikir panjang manggut-manggut terhadap apa yang mereka katakan tentang Islam, apa yang ulama di tv anda katakan, apa yang lingkungan anda katakan, apa yang guru ngaji anda katakan, bahkan apa yang ibu bapak anda katakan? Yang satu bilang gini, yang satu bilang gitu. Sini ngomong a, sana ngomong u. Tidakkah anda bingung dengan Islam dan segenap variasinya?
Ketika waktu mampu membiaskan informasi, dan sejarah adalah barang murah yang mudah didapat dari kanan-kiri, anda akan menemukan fakta bahwa segala cerita, termasuk agama, bisa tercerai berai dari satu pokok tunggal yang dulu mampu berdiri kokoh.
Jika demikian adanya akankah anda mempercayakan kepercayaan anda, keyakinan anda, jiwa anda, pada hal-hal ini? Pada ranting-ranting yang menyebar? Yang mencuat ke segala arah, menjauh dari pokoknya? Saran saya, kembalikanlah semua ke tempat yang seharusnya. Carilah pokoknya yang kokoh untuk berpijak; jangan berpegang pada rantingnya yang kecil lemah, begitu tipis hingga tertiup angin pun goyah.
Saya lalu menekuri apa yang diucapkan pihak FPI tersebut, “Jangan bicara tentang Islam jika anda tak mengenal Islam dalam-dalam. Pelajari dulu, baru bicara ini-itu tentang Islam”. Saya yakin satu-satunya sumber terpercaya dalam ajaran Islam, yang tak bisa terbias waktu, hanyalah Al-Qur’an dan Al-Hadits. Al-Qur’an bukan rumusan manusia, sangat tak pantas untuk disejajarkan dengan pancasila. Al-Qur’an tidak mengalami proses editing berkali-kali seperti Pancasila yang disunting beberapa kali oleh Soekarno, M Yamin, dan para anggota BPUPKI lainnya.
“Jangan bicara tentang Islam jika anda tak mengenal Islam dalam-dalam. Pelajari dulu, baru bicara ini-itu tentang Islam”. Lalu, saya pun sampai pada satu pemikiran: jika anda telah mempelajari Islam lebih dalam dan menyadari FPI adalah pihak yang benar-benar Islam, maka akan tetapkah ke-Islam-an anda? Akankah anda jadi pihak yang mendukung FPI? Walaupun tak sampai ikut berbuat onar, sudikah anda untuk tegak berdiri di sampingnya ketika seluruh dunia menunjuknya atas segala kekacauan yang terjadi?
Dan jangan samasekali (bahkan sekedar berpikir) untuk mengambil sikap masa bodoh! Karena sungguh anda akan jadi bodoh. Jadi kemungkinannya hanya dua: menambah ilmu ke-Islam-an anda, atau berpaling dari Islam. Haha
Kecewa karena ajaran Islam yang tidak seperti yang anda bayangkan? Haha, tak perlu kuatir. Silahkan anda keluar Islam dan membentuk agama baru. Sekte penyembah dewa tapir misalnya, seperti yang sudah Dee lakukan. Mereka ini percaya akan datangnya hari kiamat bernama The Armagedillo, di mana semua makhluk akan musnah kecuali hewan tapir dan para manusia penyembah Dewa Tapir. Kelak, tapir dan manusia akan kawin silang dan menghasilkan spesies baru bernama Homo Ayanugello. Spesies baru ini akan menggantikan Homo Sapiens sebagai penguasa Bumi. Di bawah dominasi spesies Homo Ayanugello, kehidupan di Bumi akan berubah total. Haha! Tak perlu kuatir akan serangan ormas-ormas Islam radikal yang mengecam anda sesat. Tak perlu kuatir terhadap ancaman-ancaman yang bilang akan membabi-buta anda. Tak perlu kuatir terhadap ancaman-ancaman yang bilang rumah anda akan dibakar masyarakat sekitar. Tak perlu kuatir, toh ada AKKBB. Mereka akan menjunjung tinggi segala kepercayaan dan keyakinan anda. Dengan segenap tekad pengorbanan jiwa raga dan harta, mereka akan bersungguh-sungguh dalam melindungi kepercayaan anda dan menjamin kenyamanan anda dalam beribadah menyembah dewa tapir. Karena prinsip mereka, kemerdekaan beragama dan berkeyakinan tiap-tiap manusia tidak untuk diganggu gugat.
Semoga kita dijauhkan dari segala kebodohan dan salah pengertian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar